Thoriquddin, S Pd : Keterbatasan Ekonomi Bukan Halangan Untuk Maju

Jumat, 6 Januari 2012 | 07.18 WIB
Warta Demak -

Ada pepatah mengatakan jika ada kemauan pasti ada jalan , itulah yang selalu terngiang-ngiang di telinga Thoriquddin (28) guru BK ( Bimbingan Konseling) SMK ”Bina Karya Mandiri ” di Jakarta yang asli warga Desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak. Berkat kerja kerasnya belajar dengan biaya sendiri kini dia mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa karena kemandiriannya itu. Selain mendapatkan penghasilan yang lumayan untuk keluarganya , dia kini dia bisa melanjutkan kuliah S2 yang diperkirakan rampung tahun 2012 ini . Selain mengajar di sebuah SMK , waktu luangnya kini dipergunakan untuk mengurusi kelas Cabang dari STAISA Jakarta , almamaternya dulu. Praktis waktu dalam kesehariannya habis dipergunakan untuk berkecimpung dalam dunia pendidikan.

” Alhamdulillah tahun 2007 saya diajak teman untuk mengajar , setelah lebih 5 tahun terjun ke dunia bisnis yang akhirnya kandas karena kehabisan modal . Setelah merasakan menjadi guru kini profesi baru itu sudah melekat di hati saya dan tidak ingin cari profesi lain ”ujar Thoriquddin pada Warta Demak yang mewawancarainya ketika pulang kampung.

Dengan penuh semangat Thoriquddin yang kini telah menetap di Jakarta mengemukakan, perantauannya ke Jakarta diawali setelah lulus MTS ” Ribhul Ulum” Kedungmutih tahun 1997. Dengan bekal ijasah Mts tersebut dia berangkat ke Jakarta bertekad untuk meneruskan sekolah yang lebih tinggi. Di Jakarta ia ikut mbakyunya seorang bakul sayur di sebuah pasar kecil di bilangan Jakarta utara. Waktu akan mendaftar sekolah mbakyunya merasa ragu karena harus menanggung biaya sekolah yang cukup tinggi.

Namun dengan keyakinan yang tinggi ia mengatakan bahwa ia hanya butuh uang pendaftaran setelah itu akan cari sendiri . Dengan uang pendaftaran dari mbayunya itu ia mencoba mendaftar sekolah ke MAN 5 Jakarta dan diterima. Beruntung pada waktu itu ada program beasiswa dari BAZIS Jakarta dan dia merupakan salah satu penerima bea siswa tersebut . Sehingga selama 3 tahun itu mbakyunya sama sekali tidak mengeluarkan uang sekolah . Sedang keperluan makannya ia tetap ikut mbakyunya karena sehabis sekolah sampai larut malam ia membantu menjaga kios sayuran dan sembako . Oleh karena itu belajarnyapun banyak dilakukan dikios sayuran jika sudah sepi pembeli.

”Alhamdulillah selama 3 tahun bersekolah di MAN 5 saya mendapat prestasi bagus khususnya pada pelajaran agama semisal Feqih, Al-Qur’an Hadis , dan yang lainnya karena pengetahuan agama anak-anak kota minim sekali ” tutur Thoriq.

Setelah lulus MAN otaknya kembali berfikir bagaimana dia harus melanjutkan kuliah tanpa membebani orangtua dan saudaranya. Dengan keberanian yang tinggi ia kembali bilang kepada mbakyunya untuk melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi dan dia hanya minta uang pendaftaran saja seperti yang dulu. Dengan bekal Rp 1.100.000 dari kakaknya itu ia mendaftarkan diri ke STAISSA ( Sekolah Tinggi Agama Islam Syafiiyah) Jakarta setelah gagal mengikuti UMPTN di UNIJ (IAIN SH) .

Untuk membiayai kuliah tersebut iapun putar otak , dan kebetulan kakak-kakaknya mempunyai pekerjaan sebagai Tukang Ojek di KBN Jakarta . Nah iapun minta ijin untuk narik pagi-pagi buta habis subuh sampai dengan jam 8 pagi saatnya berangkat kuliah. Dari narik ojek itulah ia bisa membayar kuliah karena setiap harinya ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 50 ribu – 75 ribu. Selain itu pada tahun kedua kuliahnya ia mempunyai pekerjaan tambahan sebagai sales komputer upgreding barang import bersama kawan kuliahnya. Dari keuntungan menjualkan komputer itu ia mendaptkan untuk Rp 100 ribu – 200 ribu.

” Dari ngojek dan jualan komputer itulah saya bisa membiayai kuliah saya sampai selesai , Bahkan usai lulus kuliah jurusan Psikologi bimbingan konseling itu saya tidak menggunakan ijasah saya untuk bekerja. Namun saya membuka berbagai usaha seperti , warnet , kontrakan sampai dengan membuka butik ”, tambah Thoriq.

Nah dari bisnis Butiq inilah kehancuran bisnisnya dimulai , selain operasional yang tinggi juga ada unsur penipuan dari pelanggan negeri jiran Malaysia. Dia mengambil baju dan pakaian lain dengan jumlah besar namun tidak mengirimkan sehingga mengakibatkan stok barang habis dan uang tidak berputar . Memang sejak awal bisnis tersebut mendapatkan perlawanan dari saudara-saudara dan juga orangtua di kampung, namun apalah nasi sudah jadi bubur dari bisnis ini ia mangalami kerugian besar sehingga semua tabungannya habis bahkan menyisakan hutang di Bank.

Ditengah kegalauannya itu ia bertemu kembali denga temannya satu almamater di STAISSA dan menawarkan pekerjaan sebagai guru BK di sebuah SMK swasta. Dengan berat hati iapun menerima tawaran itu , dan setelah dijalani beberapa bulan pekerjaan tersebut rasanya sesuai dengan kemampuan dalam dirinya sehingga pekerjaan menjadi guru tersebut ditekuni sampai sekarang. Meski hasilnya tidak secepat dengan berbisnis namun menjadi guru ada kepuasan tersendiri, diantaranya pegembangan keilmuannya dalam dirinya terus berkembang.

Diantaranya ia terus melanjutkan kuliah lagi ke jenjang S2 yang satu tahun lagi akan selesai , selain itu iapun bersama-sama temannya mengembangkan kelas cabang STAISSA agar para guru atau lulusanSMA/MA yang ingin mempunyai ijasah S1 dapat terpenuhi dengan waktu dan biaya yang terjangkau. Apalagi saat ini guru harus bersertifikat yang persyaratannya harus berijasah sarjana , sehingga kelas cabang inilah cocok untuk mereka.

” Jika aturan memperbolehkan kita bisa membuka kelas cabang STAISSA di desa Kedungmutih ini agar warga Kedungmutih bisa mengakses pendidikan tinggi dengan biaya yang terjangkau dan cukup ekonomis karena tanpa mengeluarkan biaya transport ”, kata Thoriq menutup sua.(FatkhulMuin)

Tinggalkan komentar, tanggapan, kritik atau apapun untuk tulisan di atas. Kami berhak tidak menampilkan tanggapan atau komentar jika tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau tidak sesuai topik.

1 Komentar untuk “Thoriquddin, S Pd : Keterbatasan Ekonomi Bukan Halangan Untuk Maju”

  1. amirudin mengatakan:

    tidak ada perjuangan yang sia-sia, ungkapan penuh makna tersebut paling tidak telah dialami oleh saudaraku Thoriquddin, kini buah dari sebuah perjuangan dapat dinikmatinya, “terus berjuang, berkarya….dan sukses slalu…!”

Tinggalkan Komentar