Butuh Dukungan Pemerintah Agar Lebih Maju
Senin, 16 Januari 2012 | 07.39 WIB

Demak – Desa Jetak kecamatan Wedung kabupaten Demak kini dikenal sebagai desanya pengusaha angkringan “ Nasi Kucing” atau lazim dikenal sebagai Warung Tengah Malam . Utamanya di daerah Jepara dan Demak hampir semua pedagang yang mangkal dipinggir jalan atau gang-gang kampung semuanya warga desa Jetak.
Meskipun satu atau dua ditemui bukan warga desa Jetak namun , barang dagangan yang dijual adalah produk dari desa ini. Setiap sore tiba mereka datang ke tempat para pembuat Nasi kucing dan uba rampenya mengambil dagangan , selanjutnya dibawa ke lapak masing-masing yang berupa kereta roda dua lengkap dengan tenda sehingga cukup menarik jika dipandang.
“ Biasanya mereka ke sini sekitar jam tiga atau sehabis sholat ashar . Mereka datang kesini bersama-sama sehingga halaman ini penuh dengan sepeda motor karena saya mempunyai pedagang langganan sekitar 15 – 20 orang “, ujar Mulyono (45) pemasok nasi kucing dan ubarampenya pada Warta Demak yang menemui di rumahnya gang Arrohman desa Jetak.
Mulyono mengatakan , usaha nasi kucing telah ia rintis 4 tahun yang lalu ketika bisnis buah Di Jakarta mengalami kelesuan. Awalnya ia hanya membuat beberapa puluh saja mencoba peruntungan yang dipasarkan adiknya sendiri. Dengan bantuan adiknya itu usaha semakin lancar , awalnya hanya adiknya saja namun karena setiap malam dagangan habis kemudian diajaklah tetangganya . Satu jadi dua , dua jadi empat begitu seterusnya sehingga kini ia mempunyai mitra kerja 15 – 20 orang. Mereka membuka lapak diseputaran Demak , Jepara dan juga perbatasan Kudus dengan ciri khas yang sama baik dagangan maupun tampilan lapak.
Setiap harinya kini ia membuat nasi kucing 1.000 – 1.500 bungkus dengan berbagai macam lauk didalamnya. Ada ikan bandeng , teri , dadar, sarden , udang, ayam goreng , telor tak ketinggalan juga nasi goreng. Nasi yang telah didinginkan terlebih dahulu itu kemudian dibungkus dengan daun dan Koran bekas setelah diberi lauk dan sambal kemudian diberi label . Selain itu juga disediakan dagangan lainnya sebagai pelengkap seperti sate bakso , sate kikil, sate kerang dan sate telor puyuh . Gorenganpun tak ketinggalan ada bakwan , tempe goreng , tahu goreng dan mendoan. Jika musim kemarau kadang-kadang juga ada beberapa buah yang telah dibungkus plastic seperti semangka , melon .
“ Karena modal kepercayaan mereka yang mengambil dagangan dari sini tidak membayar terlebih dahulu, saya hanya mencatat dalam buku berapa dangan yang mereka ambil , esok harinya baru mereka bayar dengan saya . Meskipun demikian mereka lancar-lancar saja setor pada saya belum pernah ada yang nunggak pembayaran “ ujar Mulyono yang didampingi istrinya Rozanah.
Dengan sistem bawa duluan itulah yang kadang-kadang membuat dia kekurangan modal . Otomatis modal yang ia keluarkan harus dobel , separo modal dalam bentuk dagangan yang masih di tangan para mitra bisnisnya . Modal yang separoh lagi adalah persiapan untuk belanja kebutuhan besok paginya . Apalagi jika ada permintaan tambahan dari pelanggannya itu karena suasana sedang terang atau ramai. Oleh karena itu karena keterbatasan modal inilah dia tidak bisa menambah lagi mitra angkringan nasi kucing yang akan membuka lapak baru.
Kendala lainnya adalah peralatan memasak dan juga dapur yang masih tradisonal , untuk memasak semuanya itu dia hanya mengandalkan dapur berbahan baku kayu bakar , meski biayanya lebih irit namun suasana yang ditimbulkannya kurang nyaman . Jika ada modal yang lebih dia berencana untuk mengambangkan usahanya ini lebih besar , karena prospek ke depannya usaha angkringan nasi kucing ini terus berkembang . Selama ini modal yang ia jalankan masih murni modal mandiri yaitu tabungan dari keuntungannya sedikit demi sedikit.
“ Saya optimis usaha menyediakan kebutuhan angkringan nasi kucing ini masih cerah , oleh karena itu kami sebagai pengusaha memohon bantuan dan juga bimbingan dari pemerintah . Selain permodalan yang masih kurang juga peralatan memasak yang lebih bagus . Sehingga selain suasananya nyaman , juga bahan yang di masak akan cepat jadi “, harap Mulyono.
Dulu ketika ada pembagian kompor gas , dia hanya memperoleh 1 unit saja yang hanya dipergunakan untuk keperluan memasak rumah tangganya . Praktis untuk memasak segala keperluan usaha angkringan nasi kucing ini dia masih mengandalkan dapur yang berbahan baku kayu . Dengan adanya bantuan dapur dari pemerintah tersebut diharapkan usahanya semakin maju karena pemasakan lebih cepat dan suasana pekerja di dalam rumahnya juga lebih nyaman.
Untuk membantu usaha ini selain istrinya juga beberapa tetangga ikut bekerja membantu kelangsungan usaha pembuatan nasi kucing ini . Selain ada yang memasak secara rutin beberapa orang juga bertugas dalam pembungkusan nasi dan juga pembuatan uba rampenya . Jika kondisi ramai tetangga yang membantunya mencapai 8 orang , namun jika hari-hari biasanya mereka yang datang 5-6 orang. Upah yang mereka dapatkan dalam seharinya rata-rata Rp 12.000,- – Rp 15 ribu rupiah . Sedangkan omzet atau jumlah dagangan yang ia pasok setiap harinya bisa mencapai Rp 1 juta – 1,5 Juta terdiri dari berbagai jenis hidangan malam.
“ Alhamdulillah dari usaha ini meski hasilnya kecil namun lancar , sehingga dari keterpurukan berjualan buah di Jakarta bisa terobati dengan usaha angkringan nasi kucing ini . Selain itu kita juga bisa bagi-bagi rejeki dengan sesama tetangga dan saudara. Jika ada yang ingin membutuhkan nasi kucing atau kerjasama dengan kami dalam hal usaha ini bisa menghungi saya “ kata Pak Mulyono sambil memberikan nomor HP yang bisa dihubungi 085747053367. (D-1/FM)






